Will There Be A New Race on The New Digital Age? ?

I became reviewer of the “The New Digital Age” book at IPDN’s Campus, Cilandak – South Jakarta in Aug. 30 2015. The Bahasa Indonesia edition book that has been bought and was introducing in the Komunitas Belajar Bengkel Kreasi‘s event. There are many chapters including the future of identity, the future of states, the future of revolution and so on, but I had not completed yet reading the all chapters, only brought the chapters of “Our Future Selves (Pribadi Masa Depan Kita)” and “The Future of Identity, Citizenship and Reporting (Masa Depan Identitas, Kewarganegaraan dan Berita)” into the event.

“We could see the book cover, many hands of children of various races, but looking at the different one,” very first I said when had be showing off the cover book to the community, and yes, there was a robot hand beside the children. So what did mean? Will there be a new race on the new digital age?

Eric Schimdt, one of  the book authors, now as the executive chairman of Alphabet Inc (formerly named Google), reported on the TNW’s posting:  Eric Schimdt knows his human-beating AI could steal your job – and he’s OK with that. The another hot issue in this week is Microsoft AI chatbot that has “learned” to be a genocidal racist. However, while the future is uncertain, a particular disruptive robotic invention will get better within the sectors of education, energy, health and cities.

When I made the discussion or the conversation, I always remind that if you think ? about technology, you should think about human not machine, because technology is just a tool.

Photo Credit: @smartparentsTIC

Konsumerisme dan Permasalahan Orangtua di “Era Instan”

Sehabis bangun tidur, smartphone yang pertama kali dilihat anak. Di meja makan, jemari anak masih saja asyik memainkan gadget. Berangkat sekolah atau sambil menunggu angkutan umum, mata anak tidak lepas dari layar smartphone, bahkan sampai menjelang tidur. Tidak sadarkah bahwa itu adalah prilaku konsumtif?

“Mengapa anak-anak zaman dulu, ketika diberi tahu orangtua lebih menurut dari pada anak zaman sekarang?”

Begitulah pertanyaan yang diajukan pembicara kepada peserta Smart Parents Class yang diadakan oleh Smart Parents Titian Insan Cemerlang pada hari minggu kemarin.

Sekarang adalah “Era Instan”, semua serba instan. Ketika dahulu orangtua harus berusaha keras dalam melakukan sesuatu; katakanlah bersekolah dengan jarak tempuh sangat jauh dan harus berjalan kaki, kini semua dilakukan dengan mudahnya dengan kendaraan. Tidak menghargai proses, itulah yang kebanyakan terjadi pada anak zaman sekarang.

Kembali ke belakang, saya pertama kali mencoba melakukan pengaplikasian teknologi 4G pada tahun 2005 di perusahaan lama, dan sekarang-sekarang inilah teknologi itu banyak dipakai (secara massive –red). Sekarang Jepang dan negara-negara maju sudah mulai melakukan uji coba teknologi 5G.

Aku mencoba menjabarkan pengalamanku selama bekerja di bidang IT ketika ditanya teknologi apa yang akan terjadi 20 tahun ke depan. Semua ada proses, teknologi yang terjadi sekarang adalah proses pengembangan yang telah dilakukan jauh-jauh hari.

Ketika dikaitkan dengan prilaku anak dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, mereka sebenarnya melakukan konsumsi produk teknologi. Chatting, update status di sosial media, streaming video dan aktifitas lainnya, ke semua itu adalah prilaku mengkonsumsi produk-produk teknologi. Bayangkan jika prilaku tersebut dilakukan secara berlebihan, konsumerisme menjangkit anak-anak di negeri ini.

smart-parents-class

Ketika anak dilahirkan untuk zamannya, pentingnya orangtua memiliki visi yang jelas dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya, sehingga tidak terjebak pada pesatnya kemajuan teknologi.

Dari semua materi yang disampaikan pada Acara Smart Parents Class kemarin, penekanan utama terletak pada pentingnya menjadi orangtua visioner. “Anak-anak visioner terbentuk dari orangtua-orangtua visioner”.

Pictures from: