10 Hal Tentang Literasi Finansial untuk Milenial

Salah satu masalah yang dihadapi orang milenial adalah keuangan. Di akhir bulan kamu suka ngeluh “aduh duit udah abis!” atau keluhan lainnya “gw mah orangnya ga bisa nabung”?

Bersama M!Power, kak Yan berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang “Financial Literation for Millennials” pada Jum’at, 5 Juli kemarin. Di sesi sharing ini dijelaskan: gimana sih ngatur keuangan milenial, keputusan keuangan apa saja yang harus diambil, prioritas mana saja yang harus didahulukan dan bagaimana adaptasi di tengah-tengah lifestyle yang berubah-ubah.

Mungkin bisa hitungan hari untuk mempelajari financial planning secara mendetil, tapi di sini secara pribadi saya mengungkapkan 10 poin hal-hal apa saja yang saya dapat pada sesi sharing 2 jam “Financial Literation for Millennials” bersama kak Yan.

1. Lima Kesalahan Keuangan Milenial

No judgement, nobody perfect. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, termasuk keuangan. Teman-teman milenial yang ikut sesi kali ini ada di antaranya masih mahasiswa, baru lulus dan masih fresh dalam bekerja, tentunya masing-masing punya kesalahan. Dibanding saya yang sudah bekerja di perusahaan sejak keluar SMA sampai dengan akhir 2013 yang kini mencoba merintis usaha sendiri, banyak sekali hal-hal yang harus dikoreksi tentang kesalahan finansial.

Berikut 5 kesalahan keuangan milenial:

  1. Kenyamanan yang berlebihan, uang dihabiskan hanya untuk mencari kenyamanan semata.
  2. Hutang kartu kredit berlebihan, semestinya kartu kredit dijadikan alat pembayaran, tapi milenial memanfaatkan untuk hutang.
  3. Tidak punya dana darurat, sifat milenial yang lebih mendahulukan hari ini ketimbang menabung di masa depan.
  4. Tidak menabung dana pensiun, hal yang masih belum terpikirkan kaum milenial.
  5. Hubungan cinta menguras kantong, ini hal yang banyak terjadi, #hehe. 🤭

Klo temen-temen masih melakukan kesalahan tersebut, cepet bertobat ya!

2. Kekayaan dan uang

Poin kedua adalah tentang kekayaan. Apakah kekayaan selalu dikaitkan dengan banyak uang? Bagaimana kamu menilai seseorang itu kaya atau tidak? 💸

Uang sudah pasti berbentuk materi, tapi kekayaan bisa berbentuk materi dan non-materi. Jangan lupa bahwa manusia terbentuk dari jasmani dan rohani, kekayaan pun bisa dilihat dari bentuk fisik seperti banyaknya uang dan aset berharga, dan juga bisa berbentuk non-fisik seperti mindset / pikiran dan jiwa seseorang yang kaya.

3. Empat tipe orang

Dari poin di atas, bisa didapati empat tipe orang berdasarkan kekayaan dan uang, yaitu:

  1. Rich and have money
  2. Rich and no money
  3. No rich and have money
  4. No rich and no money

Tipe apakah kamu sekarang?

4. Work for money and money work for you

Fase milenial sekarang adalah work for money. Tentu kamu nyari kerja untuk dapat uang bukan?

Tapi ada saat di mana uang bekerja untuk kamu. Bagaimana bisa? Tentu dari uang yang kamu tabung, aset yang kamu investasikan dan usaha yang telah kamu bangun.

5. Tiga siklus hidup manusia

Manusia mengalami 2 kali masa non-produktif dan 1 kali produktif. Saat kamu lahir dan sampai lulus sekolah/kuliah ini fase non-produktif pertama, kemudian saat kamu bekerja masuki ke fase produktif dan terakhir kamu pensiun berada di fase non-produktif kedua.

Hal yang harus perhatikan adalah kamu mengeluarkan biaya saat fase non-produktif, dan saya yakin itu tidak sedikit. Saat produktif ada kondisi di mana kamu surplus, artinya kamu mendapatkan penghasilan berlebih, di saat itulah kamu menabung, berinvestasi, menyiapkan asuransi pribadi, pendidikan dan keluarga, hingga menyiapkan dana pensiun.

6. Prioritas keuangan

Poin ini lah perencanaan keuangan dimulai. Sebelumnya kamu harus menjawab dulu pertanyaan “Apa sih mimpi kamu?”

Pengusaha sukses, lebih detilnya di techie, dengan mimpi dapat memberdayakan masyarakat dari sisi ekonomi. Itulah mimpi saya, mungkin teman-teman punya mimpi yang lain: ingin keliling dunia, kekayaan berlimpah, punya sekolah dan lain sebagainya.

Dari sini kita dapat memprioritaskan keuangan mengarahkan kepada visi ke depan yang ingin kita capai. Contohnya prioritas yang mana antara kamu ingin punya rumah atau menikah terlebih dahulu? 🤔

7. Anggaran belanja

Kelemahan milenial adalah tidak mengeluarkan anggaran belanja secara bijak. Berikut pembagian anggaran belanja:

  • Hutang produktif 20%: hutang aset yang nilainya naik seperti rumah.
  • Hutang konsumtif 15%: hutang aset yang nilainya menurun seperti kendaraan bermotor, kartu kredit, dll.
  • Asuransi 10%: alokasi asuransi minimal 10% dari penghasilan tetap.
  • Tabungan masa depan 10%: alokasi untuk dana hari tua, pendidikan anak serta perjalanan ibadah.
  • Belanja kini 45%: belanja untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagaimana jika kamu sudah tidak punya hutang, dikemanakan pembagian anggaran? Kamu bisa alokasikan dana tersebut ke tabungan masa depan dan investasi.

8. Resiko kehidupan dan finansial.

The greatest opportunities in life come with fear and risk.

— Miley Cyrus

Ada resiko dalam kehidupan, tinggal bagaimana kita menghadapi resiko tersebut. Berikut beberapa cara untuk menghadapi resiko:

  • Menerima resiko, contohnya menerima dan menanggung resiko sendiri ketika sakit.
  • Menghindari resiko, contohnya naiklah kendaraan darat atau laut ketika takut terjadi kecelakaan pesawat di udara.
  • Mengontrol resiko, contohnya memakai helm saat mengendarai sepeda motor untuk mengurangi luka-luka di kepala ketika terjadi kecelakaan.
  • Memindahkan resiko, contohnya seorang nenek menggantikan uang cucunya yang hilang.

Dari sisi finansial, telah disebutkan di atas bahwa 10% anggaran belanja untuk asuransi untuk dapat menghadapi resiko kehidupan.

9. Investasi

Investasi dapat didefinisikan sejumlah uang / membeli suatu aset untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang dan mengurangi tekanan nilai tukar uang yang terus menurun.

Hal yang harus diperhatikan dalam investasi adalah membagi resiko, jangan memasukkan semua ke dalam satu keranjang. Investasi bisa dibagi ke dalam kebutuhan jangka pendek seperti memilih tabungan & deposito, kebutuhan jangka menengah seperti obligasi dan kebutuhan jangka panjang seperti emas & reksadana.

10. Hanya 29% masyarakat paham literasi finansial

Sebenarnya tidak terkejut mendengarnya. Dari sejumlah event yang berkaitan dengan finansial –kebanyakan membahas masalah teknologi dan regulasi, baru kali dapat angka persennya. Berdasarkan survey OJK (Otoritas Jasa Keuangan), 29% masyarakat pahan literasi finansial.

Setelah googling, berikut berita persentase tersebut: OJK: Hanya 29,7 Persen Masyarakat yang Paham Literasi Keuangan

Berikut foto bersama temen-temen luar biasa yang sudah meluangkan waktunya untuk ikut sesi “Financial Literation for Millennials bersama M!Power” 💪

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *